Feeds:
Posts
Comments

sepiH

Istana ini seperti gurun pasir tandusnya, tak ada air dan tak ada kehidupan, sepi dan kelam itulah gambarannya…

seperti termakan mulut buaya, penghuninya takut mengurusi blog ini.., sudah berbulan-bulan setelah memilih jalan masing-masing, rasanya hampa banget..t

cemasku

akhir akhir ini rasanya aku merasah gak nyaman dengan ketidak singkronan ini, masalah kecil bisa jadi besar, masalah besar dilebih lebihkan, ego makin meningkat untuk bertindak, sementara pikiran gak bisa dikontrol yang ada hanya penyesalan setelah bertindak,
rasanya aku terkapar saaat kata kata kasar mulai memasuki ponselku, ketidakpercayaannya membuatku tak berarti lagi, pandangan miring tentangku mungkin sudah menguasainya, andai dia tau betapa aku sangat ingin bicara dengannya, andai dia tau betapa berat mata ini kuajak kompromi soal semalam, gak lama kemudian ponselku tewas dengan sendirinya, apakah ini juga kau anggap kesalahanku?

aku gak bermaksud membela diri dipagi buta, aku hanya berniat membangunkan dan mengucapkan selamat pagi, aku hanya ingin suarakulah yang pertama dia dengar dipagi ini, tapi semua apessss…..puluhan kali aku menekan nomer ponsel yang tak asing lagi bagiku, tapi gak ada satupun tanda tanda kehidupan yang mengangkatnya,

aku mulai gelisah ketika aku dan kawan kawan kampusku mulai diskusi, pikiranku terbagi antara diskusi dan dirinya, beribu tanda tanya selalu mengalahkan kepositipanku tentang keadaan ini, ternyata sekelilingku merasakan hawa ketidaknyamanan ini, aku mulai malu tapi aku tetap gak bisa mengalahkan tanda tanya yang terus menyerbuku…dengan niat yg tulus aku mencoba konsentrasi penuh dengan diskusi itu, sampai akhirnya berakhir aku mencoba menghubunginya lagi, rasanya aku ingin teriak, ngamuk, betapa aku diacak acak akan kekhawatiran ttgnya, tapi aku gak bisa melakukan itu saat nada diponselku menandakan ada khidupan……….

apa yang terjadi akhir akhir ini?knapa begitu berat dirimu memberiku sedikit kabar atau seukir ketenangan hati|?

kala agama jadi bencana

apa jadinya seandainya semua orang menggap agamanya paling benar, betapa banyak agama yang akan bersaing memperebutkan tempat istimewa, kenapa selalu agama yang dijadikan pertentangan? kala agama menjadi bencana semuam orang sibuk berdalih, semua orang sibuk mencipta agama baru,bahkan agama cintapun menjadi sasaran para agamawan yang lari dari agamanya!!!….

arti hadirku

tulisan ini mungkin tak berarti lagi, tapi kumencoba mengartikan perasaanku lewat deretan huruf huruf ini, rasanya tak berarti raga ini saat kubaca bait demi bait tulisan tentangmu, bahkan seulas senyuman tak mampu kuukir diterangnya pelangi, aku hanya mampu mengukir mendung dideretan teriknya matahari

betapa aku merasakan gelisah itu, sesak yang menahan persendianku membuatku letih untuk bernafas, rasanya ingin kuakhiri penerawanganku sampai disini, tapi kutak sanggup membiarkanmu larut dalam kesendirian, karena aku ingin kau mengerti ada aku yang akan selalu ada buatmu, sepekat apapun senyumanku hatiku akan selalu bersamamu, secuek apapun diriku hari ini bukan berarti aku melupakanmu,

Suatu kejadian perbedaan pendapat dengan kekasih hati yang terjadi telah membuat saya berfikir untuk dapat berintropeksi diri dari kesalahan, keangkuhan dan sedikit ego diri.
Terkadang kita sebagai manusia merasa kita yang paling benar, dan kita mungkin pernah meremehkan pendapat, atau saran dari orang lian. Kerap ketika kita mengedepankan keangkuhan pribadi dalam menerima pendapat dan kritik, dan kita meremehkan orang lain.
Sering juga kita mengabaikan hati nurani, dalam pengambilan keputusan, sebenarnya perbedaan pendapat adalah suatu anugrah yang patut disyukuri, karena dengan perbedaan pendapat kita bisa memiliki banyak pilihan keputusan, atau alternative penyelesaian masalah.

Sering kita sakit hati ketika ide atau gagasan kita tidak diterima oleh sahabat, rekan kerja, rekan bisnis, keluarga, dan suatu hubungan interaksi sosial lainnya. Coba kita berfikir positif jika pendapat kita belum dipakai, mungkin pendapat orang lain lebih tepat untuk meyelesaikan permasalahan.

Dengan kita bisa menerima pendapat atau pandangan orang lain, dan tidak memaksakan kehendak, adalah cermin dari kedewasaan, kebijaksanaan dari seseorang. Sesorang yang sudah berpribadi matang, cenderung akan menghargai pendapat orang lain, dan orang yang belum dewasa akan cenderung memaksakan kekuatanya.

Jadi kenapa tidak kita bergabung bersama untuk mendapat ide yang lebih baik, atau menghargai ide orang lain saat ide kita tidak diterima. Tetapi kita juga janganlah congkak ketika ide kita diterima. Mari kita saling menghargai perbedaan pendapat diantara kita. Karena manusia terdiri dari banyak pemikiran. Dan mari kita buat perbedaan menjadi hal yang menyatukan.

Adakalanya kita harus mengalah untuk menang, dan juga kita memang harus benar-benar mengalah untuk kebaikan bersama tapi disuatu saat kita memang harus mengalah untuk kalah karena memang kita hanyalah manusia yang tidak sempurna

“Bersifat lapang dada saat ide kita tidak diterima adalah sebuah proses kematangan diri”
“Menghargai perbedaan pendapat adalah sangat bijaksana”

tulisan gak jelas

sebelum baca tulisan ini jangan berharap ada kesingkronan dalam kalimat satu dengan yang lain, tulisan ini hanya buah dari kegelisahanku saat pulang dari kampus, mendadak aku hopeless dengan sekitarku, bahkan untuk menunaikan 5 waktukupun rasanya enggan, apa aku mulai meragukannya?bener bener hari yang melelahkan bahkan 1000 tanda tanyapun gak akan sanggup menjawab tekatekiku hari ini………………………………………………………….!!!!!!!!!!

Selamat Datang

Setelah beberapa hari membenahi ini blog, lewat diskusi yang menerik walau kadang kala mambuat kita sebel, akhirnya blog ini siap juga kami bangun. walau sangat sederhana tapi proses pambuatannya sedikit rumit karena harus menyatukan dua ide dan dua kepala yang berbeda dengan egonya masing-masing.

Blog ini rencananya akan diisi dengan catatan-catatan harian kami tentang apa saja yang kami mau. disatu pihak lebih cenderung ke IT dan di pihak lain lebih memilih menulis sastra, puisi, dan tentunya masalah-masalah filsafat sesui dengan disiplin ilmunya.

Dalam diskusi sering kali kami menemukan kebuntuan yang disebabkan oleh disiplin ilmu yang berbeda. Orang IT lebih suka memikir hal-hal yang logis, operasi matematik dan logika yang rumit. Filosof tentunya selalu berpikir kritis dan mereka selalu tidak merasa puas dengan hasil yang dicapai. Tapi semua itu bukan menjadi kendala karena kami sadar keegoaan kami tak ada gunanya.

Akhir kata kami berharap blog ini dapat menberikan semangat bagi kami dalam menggapai mimpi-mimpi kami, karena kami telah berani bermimpi maka kami wajib untuk mengejar mimpi-mimpi kami.